PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak)
Hari Sabtu dan Minggu kemaren, saya ikut acara PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak), yang diselenggarakan oleh Komite Sekolah SDIT Luqmanul Hakim, bekerjasama dengan Auladi Parenting School. Banyak banget cara asuh saya yang salah, ternyata.... Mudah-mudahan setelah ini bisa kami perbaiki. Amin. Mohon do'a pembaca sekalian.
Berikut beberapa beberapa hal yang saya ingat:
Bersama anak, bukan hanya di dekat anak
Sangat penting untuk meluangkan waktu bersama anak, bukan hanya berada di dekat anak. 'Bersama anak' artinya kita ikut terlibat dengan kegiatan yang sedang dilakukan anak, entah bermain, belajar, atau apa pun.
Motivasi dari dalam, lebih baik daripada motivasi dari luar
Contoh motivasi internal: keinginan belajar anak karena rasa penasaran akan sesuatu.
contoh movitasi eksternal: suruhan, rasa takut (diomeli/dimarahi).
Motivasi internal akan jauh lebih kuat mendorong anak untuk melakukan hal-hal positif, daripada motivasi eksternal.
Prestasi, bukan prestise
Adakalanya orang tua mengejar prestise, melalui apa yang dicapai anak. Jika demikian, maka hal yang memberi prestise, misalnya nilai mata pelajaran, akan menjadi tujuan pencapaian orang tua.
Seharusnya yang dikejar adalah prestasi anak. Perolehan nilai mata pelajaran hanya salah satu indikator prestasi.
Proaktif, bukan reaktif
Contoh sikap reaktif:
Kita memarahi dan menasehati anak ketika mereka berantem.
Contoh sikap proaktif:
Kita mengapresiasi ketika anak sedang bekerja sama, main bersama misalnya.
Dahulukan reward, bukan punishment
Meskipun hukuman itu bisa saja diberikan ketika anak melakukan kesalahan, tetapi lebih baik dan harus jauh lebih didahulukan penghargaan ketika anak melakukan kebaikan. Jika akan membuat hukuman bagi pelanggaran tertentu, pastikan hukuman tersebut bisa dilaksanakan. Sebagai contoh, mengatakan pada anak di mall "Kalau kalian lari-lari terus, nanti ditinggal!" adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
Jangan pernah berbohong pada anak
Kita mungkin pernah mentolerir kebohongan pada anak untuk hal-hal tertentu. Seharusnya kita tidak boleh sama sekali berbohong kepada anak, karena akan mengurangi kepercayaan mereka terhadap kita. Kurangnya kepercayaan anak kepada kita akan menyebabkan anak mencari pihak yang lebih dipercaya di luar rumah.
Tidak menyakiti fisik anak
Menyakiti fisik adalah salah satu contoh sikap reaktif ketika anak melakukan kesalahan, dan hanya akan menghentikan anak dalam jangka pendek.
Anak, Si Pembelajar
Pada dasarnya anak senang belajar. Itulah mengapa bayi pada umumnya sangat antusias mengejar sesuatu yang baru mereka lihat, meskipun harus berkali-kali jatuh. Yang sering tidak kita sadari, cara mereka belajar bisa jadi tidak sama dengan apa yang kita bayangkan. Mereka belajar dengan cara mengamati, menyentuh, menggigit apapun bagi bayi, mengacak-acak mainan dan sebagainya.
Konon, menurut penelitian, 80% anak malas belajar karena sress, entah di rumah atau di sekolah.
Beberapa tips mengajak anak belajar:
- Bawa anak pada kondisi nyaman dulu, misalnya awali dengan permainan, tebakan dsb.
- Usahakan anak penasaran dengan materi ajar: pancing dengan pertanyaan, ajak berimajinasi dsb.
Konsisten, konsisten!
Saya baru sadar betapa berbahayanya inkonsistensi dalam membuat aturan. Sebagai ilustrasi, ketika di awal kita melarang anak beli coklat, kemudian akhirnya memperbolehkan mereka beli karena merengek, nangis, bahkan mungkin mengamuk, maka anak akan belajar beberapa hal:
- Kata 'tidak boleh', ternyata bisa berarti 'boleh'
- Semakin besar 'gangguan' yang dilakukan, 'tidak boleh' itu semakin mendekati 'boleh'. Jadi kalau ingin berhasil, tinggal dinaikkan saja level gangguannya.
- Upaya negatif (menangis, merengek, mengamuk), ternyata bisa menghasilkan hasil positif (dibelikan coklat tuh...)
- Ternyata orang tua gak bisa dipercaya
Positif, bukan negatif
Selalu beri anak energi positif, bukan energi negatif
- Gunakan kalimat positif, jangan kalimat negatif (misalnya menggunakan kata 'jangan', 'tidak', 'tidak boleh'). Bayangkan apa yang akan kita rasakan jika seseorang berkata "Jangan membayangkan seekor monyet berbadan besar, berbulu hitam, bergelantungan di pohon, bersuara uukk...ukk...". Kita pasti akan membayangkan sang monyet dengan jelas, meskipun sudah jelas-jelas dikatakan "jangan". Jadi lebih baik mengatakan "Nanti kita akan beli anu, anu dan anu", daripada mengatakan "Nanti jangan beli coklat ya...".
- Tidak memberi stigma negatif terhadap anak, misalnya dengan mengatakan "Iya nih, anak saya memang pemalu...." Jadi pemalu beneran terus menerus deh. Setiap anak pasti punya kelebihan. Angkat sisi-sisi yang jadi kelebihannya itu.
Seperti juga orang tua, anak ingin dihargai, punya harga diri. Kadang kita secara tidak sadar merendahkan harga diri anak dengan cara: mengomeli, memarahi, menasehati terus menerus, sehingga di pikiran anak tertanam:
- Saya ini memang gak bisa
- Biar aja yang memutuskan ayah/ibu, toh kalau saya yang memutuskan mesti salah
- Pendapat saya mesti salah, pendapat ayah/ibu yang benar
Mendengar, baru berbicara
Kita kadang memandang anak sebagai 'makhluk kecil yang belum ngerti, dan karena itu harus diberitahu, dinasehati dst', sehingga kita jarang mau mendengar apa yang diinginkan dan dirasakan anak. Kita seharusnya mau lebih banyak mendengar, karena dengan kita dengarkan, rasa percaya dirinya akan naik, potensi berpikirnya pun akan lebih tergali. Ketika si Kakak memukul adeknya misalnya, maka seharusnya hal pertama yang kita lakukan adalah mendengar dan mencari tahu apa yang dia pikirkan/rasakan, sehingga si Adek dipukul. Setelah kita dengarkan, baru berbicara kepadanya: menasehati, memintanya untuk minta maaf dan sebagainya.





7 Comments:
Mantap Mas posting-nya, keren!
@Budi
Saya banyak banget salahnya ternyata... Mesti banyak belajar lagi.
wah pak...sy jd pngn ikutan program ini..gmana ikutnnya?
=)
email: sebeninghati@gmail.com
syukron
@sibeninghati
Setahu saya, sudah ada jadwal kapan dan di kota mana program PSPA akan dilaksanakan. Cuma saya sendiri pun nggak tahu jadwal persisnya. Dicari-cari jadwal di media online pun gak nemu juga :(
Pak saya novianti, mahasiswi Gunadarma,,saya mau tanya donk map server bisa tidak untuk menginput new entry data di dalam peta yang kita buat (langsung di interface peta tersebut) atau ada software GIS yg berbasis Web yang bisa menginput new entry data di interface peta tsb...
mohon sarannya...
email: novianti_simanjuntak16@yahoo.co.id.
terimakasih.
@Novianti:
Bisa saja jika dikombinasikan dengan beberapa tool lain. Kami di PT Webgis Indonesia misalnya, mengembangkan tool Online Map Editor untuk keperluan dijitasi dan editing data spasial online. Screenshot bisa dilihat di sini.
saya juga baru ikutan PSPA tgl 9 -10 Mei 2009 di Jambi. karunia yg sangat besar bisa ikut PSPA untuk modal mendidik anak kita menjadi perhiasan dan obat bagi kita. rugi 100 X bagi yg ga ikutan. ini adalah seminar yg paling mengesankan dalam hidup saya. Jadilah orangtua GAUL, gimana caranya? ikutan aja seminar PSPA.
Post a Comment
<< Home